Dua Film Bagus



So, finally I have the urge to write…  again… after all this time, kamu tahu, this is maybe one of the benefit of this gap, you know what I mean? I actually don’t know why it (the urge) come so suddenly on this rainy afternoon. And I will spend my life trying to figure it out. What a waste of time, yeah… Aku sebenarnya sedih, of course, who wouldn’t? But let’s face this. It’s the life anyway. And no, I am not gonna write it all in English, ini cuma kebawa film yang baru saja ditonton, and this writing will be about that movie (and the other one earlier).

It’s been a while since I put my interest on watching movie, you know, since the attack of Japanese anime and Korean drama, ha ha ha, tapi tetap spare waktu untuk benar-benar berburu film yang bagus. Terkadang aku muak mendengar bahasa Jepang dan bahasa Korea. So there I was, by the accident, I met this two movie with high rating and some crazy synopsis. Yang satu, yang baru saja selesai ditonton, dengan ringkasan, ‘seseorang membunuh pemilik apartemen-nya,’ yang membuat menarik adalah bahwa di bagian genre film ini tercantum drama, bukan crime atau thriller sama sekali. Sebenarnya bukan itu sih. Alasan utama kenapa film ini dipilih adalah karena ada bendera Swiss di cover filmnya, silakan cek sendiri film ini berjudul “Small Apartments”. I am a simple person, I see Swiss, I upvote.

Film “Small Apartments” ini sudah membuat bergairah sejak scene pertama karena menampilkan bendera Swiss dan scenery Swiss village dengan background the Alps. Tokoh utama yang sangat enggak banget sedang meniup terompet khas Swiss yang sebesar gading mammoth. Tapi aku tahu ini bukan film tentang negara Swiss, so yes, I have prepared myself. Sebelum menontonnya (karena baru selesai menonton K-Drama “The K2”) sempat berpikiran, “Okay, so let’s see how long this movie will hold me to the screen or I will change to the next movie on the list.” Dan ya, ternyata aku menonton film ini hingga selesai tanpa jeda. Dan sangat menarik. Tidak ada bagian yang membosankan. Film ini membuat penasaran. Setiap tokoh di dalam film ini “diurus” dengan baik oleh si pembuat cerita, tidak ada tokoh yang diabaikan. Dan hampir dari semua tokoh kita bisa mengambil pelajaran berharga. Sangat menyenangkan menontonnya, apalagi kalau bisa menonton berdua bersama ada yang menemani. Film ini dibuat dengan sangat bagus. Idenya bagus. Penyuguhannya pun bagus. Hanya ada sedikit cacat saja, saya kira bagian scene ketika Franklin berkunjung ke RSJ, suster yang mengabari bahwa kakaknya mati kurang pas. Itu saja yang kurang. Yang lainnya terasa sangat orisinil. Pesan-pesan bisa didapatkan dari film ini. Bagus sekali. Sangat riil. Tidak seperti pesan-pesan dari film superhero yang omong kosong sangat. Bravo! And at the end of the movie my silly dream to step on the Alpine hill is bursting like a firework and that make me so damn sad. (I hope I can swear more here, tapi masih ada rasa tidak enak, ha ha ha.)

Kita beralih ke film selanjutnya, yang aku tonton sebelum film tadi, sekitar beberapa hari yang lalu, mungkin seminggu yang lalu. I hope I was born on Switzerland, bukan di kota-nya, tapi. Sad nggak? Yang kedua ini tidak ada sangkut pautnya dengan negara manapun. Ya tapi pasti bikinan Amerika Serikat, tentu saja. Kunci dari dipilihnya film ini adalah rating yang tinggi dan—tunggu dulu—damn! Damn! Lupa. Lupa. Sori. Sori lupa. Alasan paling penting dipilihnya film ini waktu mau download ketika itu adalah karena judulnya: “SWISS ARMY MAN”. For God’s sake, kenapa ya judulnya harus gitu? Dan kenapa bisa klop sekali dengan film yang barusan di bahas?

Anyway, film “SWISS ARMY MAN” tidak sekutilpun mengandung hal-hal berbau Swiss. Entahlah. Mungkin judul itu adalah semacam metafora untuk menggambarkan tokoh utamanya. Entahlah. Film ini berkisah tentang seseorang yang terdampar di suatu pulau terpencil, kemudian orang ini hendak bunuh diri dengan cara gantung diri karena sudah tidak kuat hidup sendiri. Saat itulah muncul seonggok mayat yang diperankan oleh Daniel Radcliffe. Orang ini tidak jadi bunuh diri. Dia menghampiri mayat itu. Mayat itu sudah mati, ya iya lah. Tapi mayat itu bisa kentut. Kemudian orang ini menggunakan mayat itu untuk meninggalkan pulau terpencil itu. Kau tahu bagaimana? Yakni dengan mengendarainya seperti mengendarai speedboat, didorong oleh tenaga kentut si mayat.

Lalu dimulailah petualangan si tokoh utama dengan si mayat ini mencari jalan pulang. Mereka berhasil keluar dari pulau terpencil, tapi mereka belum bisa kembali ke kota, mereka masih harus mencari jalan masuk menuju kota. Mereka masih tersesat di hutan pinggir kota. Ada banyak obrolan filosofis yang terjadi, tapi juga diselipi dirty-jokes yang menurutku lumayan kotor (level medium). Overall, film ini juga cukup menyenangkan, tidak ada scene yang bikin bosen (yang bikin jijik mungkin ada). Bedanya dengan yang tadi, film ini mengandung sedikit unsur ketidakmungkinan yang sampai akhir film nggak ketemu penjelasannya. Tolong ya, kalau ketemu kasih tahu aku, karena hal tersebut cukup menghantui jika kepikiran terus. It’s a good topic to discuss.

Dua film ini punya kesamaan: dalem, lucu, musiknya bagus, casting-nya bagus, berurusan dengan mayat, rada jorok (secara seksual dan jorok dalam arti sebenarnya), bikin penasaran, ending-nya tidak mengecewakan. Kekurangannya mungkin sepi. Kedua film ini entah kenapa terasa sepi. Keduanya tidak ada mob. cameo. Eh, tokoh figuran gitu. Hampir tidak ada tokoh figuran-nya.

Ya segitulah review dariku mengenai dua film bagus yang kutonton.

Semoga tulisan ini terdeteksi secepatnya, harapannya sih begitu.

Someday I am happy, someday I am sad. Someday I want to change the world, someday I want to lie in my room all day long. Someday I feel full, someday I feel empty. Someday I love people, someday—. Some day I watch anime, some day I watch drama. Some day I feel sane, some day not (mostly). Some day I have a pen, some day I have an apple. Ahh! Apple-pen! (For heaven sake where is the funny in that yellow-clothed oji-san dancing like an idiot?! I do like the twin btw, kawaii~)

*ada bagian yang agak psycho (nyeremin) gitu di film “Small Apartments”. Dari menit ke- hingga ke-? (Mungkin tidak lebih 1 menit sih.)

Postingan populer dari blog ini

Report