Peng-abdi-an



Kenny Ackerman, salah satu tokoh di AoT, bilang bahwa, pada akhirnya semua manusia itu diperbudak oleh sesuatu, entah itu impian, prinsip hidup, cita-cita, keluarga, uang, atau—yang paling ngéhék sekaligus hésék, ya tentu saja—God s.w.t. Aku mungkin udah lama berpendapat sama demikian, tapi pas baca di komiknya ya terkejut juga. Can’t agree more.

Manusia tercipta sebagai budak, Fani. Saya rasa itu tertanam secara anatomis di dalam otak. We can’t help about it. Yang penting: kepada apa/siapa kita menghamba.  Tahap awalnya adalah diperbudak diri sendiri. Setelah itu loncat-loncat, ganti tuan sesuai dengan medan pengalaman. Ada juga mungkin yang sampai pupus tetap diperbudak oleh diri sendiri. Ini menyedihkan sih, tapi sebisa mungkin aku gak akan banyak-banyak ngebahas tentang itu.

Beruntung, pertama-tama, orang-orang yang sudah menyadari akan perbudakan abadi ini. Kedua, orang-orang yang sudah menemukan tuan sejatinya. Nggak penting itu apa, siapa, atau anak mana. Bahkan nggak penting, bener-bener ada apa enggak. (Para otaku malang pemuja 2D itu, contohnya.) Orang sial adalah orang yang nggak sadar sama sekali bahwa dirinya diperbudak, dan malah merasa bahwa dirinya adalah tuan yang bebas secara mutlak. Tapi kamu tahu yang paling sial? Yakni orang yang nyadar keterbudakan ini, tapi dia jadi nggak tahu harus mengabdi ke mana, luntang-lantung nyari tuan, shit, kondisi kayak gitu ngeri banget. Maksudku, dengan perangkat dasar sebagai budak (yang nggak bisa diganggu gugat), manusia yang aware tapi nggak punya tujuan itu kayak orang bangun di padang mahsyar, yang lain ada yang masih sleep, yang lain ada yang udah bangun terus langsung melihat cahaya, kicep-kicep tinggal ngikutin, nah orang malang ini cuma bisa celingak-celinguk tidak jelas seperti maba nyari ruang kelas di hari pertama kuliah. (Maaf ea curhat. Ya semua ini juga memang curhat sih.)

Honestly, aku juga pernah, saking desperate, kepikiran untuk mohon-mohon, bila perlu sampe sujud. Lebay banget kan anjir, tapi itu ternyata bukan hal aneh, karena begitulah perbudakan. Ogut cuma pengin tahu letak sirkuit neuronnya secara anatomis di otak tuh di mana. #menghiburdiri Ini begitu sulit karena berurusan dengan daging sih. Fuck nature! Fuck me even more.

Karena hidup manusia tidak sebatas biologis, padahal alam ini secara fisik dan alami cuma nyediain motivator biologis, akhirnya muncul Tuhan dan segala derivat-nya, (atau: rute-nya bisa dibalik sih). Intinya, ya gitu.

It sucks.

Ayah-nya uri Milly ternyata terdiagnosa hepatitis. Sudah last stage. Kerusakan sudah mencapai taraf anatomis. Sirosis. Bahkan dokternya sendiri udah bilang, “Ya, ini hanya bisa kita doakan saja.” Jadi sekarang Milly pun balik ke Jogja cuma seminggu, untuk menyelesaikan urusan di sini, habis itu boyong. Can’t tell how sad.

Makanya, Milly sekarang rajin ibadah. Bakda sholat doanya lama dan khusyuk banget. Lihat kan? Perbudakan adalah samsara itu sendiri. Jahat nggak sih, aku melihatnya dengan cara seperti itu? I know. I feel bad tho, but that’s my honest opinion, berdasarkan apa-apa yang kutemuin belakangan. Bukan berarti aku menganggap itu hal yang buruk.

Anyway, Mama juga lagi masuk rumah sakit, di RS Misi. Biasa sih diagnosa-nya mah gula. Demam tinggi katanya, dan mual-mual. Aku minta mereka medical check up untuk mengantisipasi kalau terjadi infeksi laten. Kasus hepatitis ayahnya Milly gitu, soalnya, virusnya laten 20 tahun baru ketahuan, dan sayangnya sudah telat.

Why is being adult so fucking hard, yes? Jesus, or it’s just us? Atau saya aja nih? *sad*

Kenapa ya, meski udah berkali-kali menyaksikan, baik secara langsung maupun nggak langsung, bahkan hampir setiap hari kita melihat di berita ada orang mati, kenapa ya kita nggak pernah siap?

Untuk saat ini, mungkin karena emang kepikiran kayak gini, maksudnya aku bener-bener ngerasa pasrah (lol) alias nggak berdaya terhadap kedigdayaan Sang Sutradara, nothing to loose, kadang jadi ngerasa siap. Bukan siap sih, lebih ke: ya udah, kalau emang kejadian, emang gue bisa apa? Tapi, kalau bener-bener kejadian salah satu dari orangtuaku meninggal duluan, aku belum tahu bakal seberapa bombastis reaksi si otak ini. Haha.

Berguna nggak sih mikirin beginian? Kehitungnya realistis atau idealis? Mati itu real kan ya, tapi banyak orang yang gak mau bahas.

Atau kalau kamu. Atau kalau akunya sendiri. Sama aja.

Kadang, sialnya, aku ngerasa sial banget karena harus memikirkan sampe ke sini, menjadi se-nothing to loose ini (secara teori). Gimana kalau gara-gara aku mikirin ini, Allah jadi kayak, “Wah, anjir si romi udah siap nih, bakal kuat nih kalau dicoba.”

Bapak bilang supaya banyak berdoa buat Mama, tapi imanku nggak segamblang Milly yang bisa tiba-tiba jadi extended gitu dzikir dan doa-nya. Aku kok suck dalam berdoa. Paham jabbariyah laknat keparat ini benar-benar menuntut untuk menggali falsafah ritual doa hingga ke akarnya. Kenapa juga masih meminta sesuatu jika semua yang kita butuhkan hanyalah Dia? Apakah kita bisa meminta yang lain jika Dia sudah menghendaki sesuatu? Semua orang normalnya ya menginginkan kebahagiaan, kebermanfaatan, dan ketenteraman, semua itu bisa diusahakan, tapi pada akhirnya juga hidup memang naik turun, kan? Karena Allah selalu punya rencana di atas rencana.

Apakah rencana itu, tuan yang kita cari? Geutji~? Ani geutji~?

Postingan populer dari blog ini

Report